Kesombongan Irene Kharisma di Podcast Deddy Corbuzier

oleh -99 views

Deddy mengundang Irene dan Gothamchess ( Levy ) setelah sebelumnya mengundang Pak Dadang dan Ali Akbar. Deddy mendengarkan dan menghargai pendapat mereka semua, dan di atas itu semua, Deddy tetap tidak menutup kemungkinan kalau mungkin saja Pak Dadang memang memiliki bakat, dan Deddy menjadi orang yang benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan ini secara adil dan berniat mengurus diadakannya pertandingan catur untuk memperlihatkan kemampuan Pak Dadang.

Untuk pembicara yang diundang, saya melihat karakter Gothamchess ( Levy ) ternyata orang yang cukup ‘fair’ dan menghargai banyak orang, dia cuma bicara berdasarkan fakta, tidak ada tendensi, tidak bersikap defensif. Deddy pun sempat melontarkan pertanyaan bagus kepada Levy , “mungkinkah ada orang di luar sana yang memang luput dari sorotan, tapi jenius?” dan jawaban Levy pun cukup sportif, dia tidak memungkiri kemungkinan bahwa ada orang berbakat tapi tidak memiliki titel karena mungkin orang itu harus bekerja menafkahi keluarganya dan tidak sempat mengikuti kejuaraan catur secara resmi. dan sikap Levy pun cuma menegaskan bahwa dirinya cuma bisa mempercayai sistem di chess.com, akun Dewa Kipas yang dibanned pun keputusan chess.com.

Dan walaupun Levy sudah menjadi korban dari segala kekisruhan ini, dia tetap tidak ingin netizen manapun melakukan bullying terhadap siapapun, bahkan ke Pak Dadang atau Ali Akbar sekalipun. Terlihat dia memang sportif dan tulus ingin mempopulerkan dunia catur dengan cara sehat.

Di sisi lain, untuk Irene, entah kenapa terlihat emosional dan defensif. Pernyataannya lumayan meremehkan, seperti kalimat “Nggak ada pendekar dateng dari gunung tiba-tiba jago, ini bukan komik”. Lalu meninggikan diri tapi tidak terlalu punya poin dengan bilang “saya sendiri untuk menjadi grandmaster butuh 9 tahun”, padahal faktanya Pak Dadang pun juga umurnya sudah tua, cuma tidak tersorot, jadi faktor utamanya bukan umur, tapi cuma sorotan.

Kemudian Irene pun mengambil analogi yang cukup berbahaya dan berpotensi menyudutkan dengan menganalogikan cara kita menginvestigasi kasus Pak Dadang dengan cara kita melihat investigasi kasus pencurian, untung Deddy pun langsung menepis dengan bilang “kalo pencurian itu sudah kejahatan, contohnya jauh”.

Lalu ketika Deddy bertanya ke Irene “Kamu mau nggak kalo bertanding dengan Dewa Kipas?” Jawaban Irene pun terkesan pongah dan materialistis dengan menjawab “Kalau misalkan dari mas Deddy mau mensponsori dan jumlahnya pas, oke.”

Lalu di akhir, ketika Deddy menanyakan kemungkinan soal diadakannya pertandingan untuk Pak Dadang, Irene menjawab dengan nada defensif seperti, “tapi Pak Dadang sudah ditawari, dan dia menolak”, “Tapi beliau sudah kasih statement kalau beliau berhenti bermain catur”. dan yang menarik, setelah itu, Deddy mengambil sikap seperti layaknya orang yang sudah banyak bergaul dan mengerti banyak karakter orang, makanya Deddy cuma menepis pernyataan Irene dengan santai, tersenyum dan bercanda sambil bilang “Kalo Tia ( asisten Deddy ) yang ngomong beda”.

Di sini terlihat Deddy memandang kasus ini dengan sikap ‘asik’ saja karena memang sudah bertatap muka langsung dengan Pak Dadang juga, sedangkan Irene entah kenapa terlihat tendensius, kaku, dan terkesan terlalu berjarak dengan Pak Dadang. Deddy terlihat sudah memahami karakter Pak Dadang sehingga mengerti cara berkomunikasi dengan Pak Dadang dan mungkin cara untuk meyakinkan Pak Dadang untuk mau menunjukkan bakat permainan caturnya, sehingga segala kekisruhan ini bisa menjadi suatu hal yang produktif, bukan cuma saling menebak dan menuduh.

dikutip dari salah satu komentar Netizen Indonesia di podcast Deddy Corbuzier

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *