CORONA MELONJAK, GARA-GARA KEBANYAKAN MAKAN GARAM

oleh -28 views

Orang Madura mirip dengan orang Jawa. Jika orang Jawa memiliki jargon mangan ora mangan seng penting ngumpul, orang Madura lebih dari itu. Untuk itu, sangat sulit melarang orang Madura untuk tidak berkumpul, khususnya saat lebaran.

Saya sama-sekali tidak kaget saat mendengar kabar bahwa kasus pasien corona di Bangkalan meningkat drastis. Karena rutinitas orang Madura memang ngumpul-ngumpul, terlebih pada momen lebaran.

Sebelum melanjutkan akar-masalah dari lonjakan pasien Covid-19 di Bangkalan, saya terlebih dahulu akan membawakan lirik sebuah lagu yang menggambarkan watak orang Madura. Lagu itu berjudul Reng Madhureh, yang hampir semua orang Madura tahu akan lagu itu. Berikut cuplikan liriknya sekaligus terjemahannya:

Mun ikhlasah nolongin tatangge

lakar tak menang ka reng madureh

Make jeuh tarentan e sareh

Urusan tengka paling nas teteh

(Masalah Ikhlas membantu tetangga

Tidak ada yang dapat mengalahkan orang Madura

Meski jauh, sanak saudara dicari

Urusan tingkah laku, paling berhati-hati)

Karakter yang ada dalam lagu tersebut memang sudah menjadi jantung orang Madura. Sehingga mereka kadung terbiasa merelakan diri kesakitan, demi membahagiakan sanak-saudara dan para tetangga. Saat corona melanda, orang Madura tidak sedikit pun mengenyampingkan urusan ngumpul-ngumpul, meski mereka yakin bahwa hal itu membahayakan. Karena memang motto mereka: kami tidak masalah sakit, asalkan bisa berkumpul dengan keluarga. Maka tidak heran, dan tidak berlebihan jika saya katakan: orang Madura terjangkit Corona, gara-gara kebanyakan makan garam kehidupan.

Untuk mengubah pola-pikir semacam itu, perlu kiranya menciptakan nuansa pendidikan. Baik dengan cara Online Learning atau sekolah secara tatap-muka. Namun, dengan kuliah online, kita sebenarnya mendapat kemudahan, yang tidak didapat sekolah pada umumnya. Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *